Daftar Laman

Saturday, October 1, 2016

Laporan Praktikum Mikroskop




PENGENALAN MIKROSKOP
(Laporan Praktikum Biologi Pertanian)

















Oleh
Muhammad Alfiano Rizky
1610511310010
Kelompok 4










FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2016








  


PENDAHULUAN
Latar Belakang
                Panca indra manusia terutama pada indra penglihatan yaitu mata memiliki kemampuan yang terbatas. Oleh karena itu, banyak masalah yang mengenai organisme dan benda-benda yang hanya dapat diidentifikasi oleh alat-alat tertentu. Salah satu alat yang sering digunakan terutama dalam bidang sains adalah mikroskop yang berfungsi sebagai alat untuk mengamati objek yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang (Volk & Wheeler,_1993).
                Mikroskop merupakan salah satu alat yang penting pada kegiatan laboratorium sains, khususnya biologi. Mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati obyek yang berukuran sangat kecil (mikroskopis). Hal ini membantu memecahkan persoalan manusia tentang organisme yang berukuran kecil. Untuk mengetahui mikroskop maka perlu diketahui komponen mikroskop, macam-macam mikroskop, penggunaan dan pemeliharannya.
              Ada beberapa jenis mikroskop yang dapat dipergunakan untuk mempelajari materi biologi. Pada dasarnya mikroskop-mikroskop itu dapat di golongkan menurut jenis sumber cahaya yang dipakai. Tentu yang paling banyak dipakai adalah mikroskop optic yang menggunakan cahaya terlihat. Ada beberapa modifikasi tertentu, yaitu mikroskop polarisasi, mikroskop kontras fase, mikroskop interferens, dan mikroskop lapangan (medan gelap). Semua mikroskop yang menggunakan radiasi tak terlihat dan sinar ultraviolet serta mikroskop electron, merupakan perkembangan yang lebih baru.

Tujuan
              Tujuan dari praktikum ini adalah mengenali struktur dan bagian dari mikroskop terutama mikroskop cahaya, memahami kegunaan dan fungsi, mengetahui cara penggunaan-nya, serta terampil menggunakannya.



TINJAUAN PUSTAKA
              Orang yang pertama kali menggunakan mikroskop (mikroskop sederhana) adalah Antony Van Leuwenhoek, lewat penelitiannya yang meneliti sel (menemukan sel gabus). Kemudian pada tahun 1600, Hanz dan Z. Jensen telah menemukan mikroskop yang lebih maju dengan nama mikroskop ganda. Mikroskop (bahasa yunani: Micros = kecil dan scopein = melihat) adalah sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata kasar. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata. Dalam perkembangannya mikroskop mampu mempelajari organisme hidup yang berukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, sehingga mikroskop memberikan kontribusi penting dalam penemuan mikroorganisme dan perkembangan sejarah mikrobiologi. Organisme yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme, atau kadang-kadang disebut sebagai mikroba, ataupun jasad renik (Parjatmo, 1999:1).
              Beberapa alat bantu yang dapat digunakan seperti alat pembesar luv, yang biasa digunakan untuk memperbesar tulisan, namun alat ini memiliki kelemahan berupa keterbatasan dalam pembesarannya. Mikroskop pada era sekarang sangat berguna, karena memiliki keunggulan yang lebih tinggi dibandingkan alat pembesar luv. Mikroskop banyak digunakan dibidang kedokteran untuk meneliti berbagai bentuk penyakit, pemeriksa darah dan lain-lain (Lay, 1992).
              Mikroskop terdiri atas dua lensa cembung yaitu sebagai lensa objektif (dekat dengan mata) dan lensa okuler (dekat dengan benda). Baik objektif maupun okuler dirancang untuk perbesaran yang berbeda. Lensa objektif biasanya dipasang pada roda berputar, yang disebut dengan gagang putar. Setiap lensa objektif dapat diputar ketempat yang sesuai dengan perbesaran yang dikehendaki. Sistem lensa objektif memberikan perbesaran mula-mula dan menghasilkan bayangan nyata yang kemudian diproyeksikan keatas lensa okuler untuk menghasilkan bayangan maya yang kita lihat. Biasanya mikroskop laboratorium dilengkapi dengan tiga lensa objektif, yaitu lensa 16 mm yang beresolusi rendah (10X), lensa 4 mm berkekuatan kurang tinggi (40-45X) dan lensa celup minyak berkekuatan tinggi (97-100X). Lensa tersebut terletak pada suatu hidung yang dapat berputar sehingga obyektif yang di kehendaki dapat dengan mudah diletakkan pada posisi kerja. Obyektif celup minyak memberikan perbesaran tertinggi dari ketiganya. Lensa okuler terletak pada ujung atas mikroskop (Parjatmo, 1999:1).
Mikroskop terbagi menjadi dua macam, yaitu :
1.      Mikroskop Cahaya
2.      Mikroskop Elektron
            Mikroskop cahaya (MC) mempergunakan pancaran cahaya untuk membuat bayangan benda yang dibesarkan; sedangkan mikroskop elektron (ME) mempergunakan pancaran elektron untuk membuat bayangan benda tersebut. Prinsip kedua macam mikroskop tersebut diuraikan pada pasal berikut (Yatim, 1996:9)
Mikroskop cahaya ada 4 macam :
1.      Mikroskop biasa
2.      Mikroskop fluoresensi
3.      Mikroskop fase-kontras
4.      Mikroskop polarisasi
Mikroskop elektron ada 2 macam :
1.      MET ( Mikroskop Elektron Transmisi )
2.      MES ( Mikroskop Elektron Skaning )

a      Mikroskop biasa
          Yang biasanya dipakai mahasiswa dan peneliti di laboratorium. Sumber cahaya untuk menerangi obyek bisa dari sinar alam (cahaya matahari) langsung, bisa pula dari lampu listrik yang dipasang di bawah obyek. Perbesaran 10 – 1000x. Dipakai untuk melihat sel atau makhluk renik yang masih hidup dan segar, atau juga yang sudah mati dan dibuat sediaan melalui proses mikroteknik. Bagian-bagian sel dan organel dapat dibedakan oleh perbedaan kadar atau macam zat warna yang diserap, yang diberikan saat memproses mikrotekniknya. Mikroskop biasa, prinsipnya ditemukan Hans dan Zaccharias Janssen (1590), mempergunakan cahaya sebagai pemantul bayangan obyek. Mikroskop ini memiliki kombinasi 2 lensa, yaitu lensa obyektif dan okuler. Kekuatan membeda (resolving power) mata orang 0,1 mm. Mikroskop selain membeda juga membesarkan bayangan benda, dan membesarkan tergantung pada daya membeda tersebut. Obyek yang kurang dari panjang gelombang cahaya tidak dapat dibedakan dalam mikroskop biasa. Panjang gelombang cahaya rata-rata 5.500 A (1 A = 10 mm). Karena itu obyektif tidak dapat membedakan obyek dengan diameter kurang dari 2750 A. Umumnya mikroskop cahaya sekarang mampu menolong mata orang untuk melihat benda sebesar 0,0001 mm, dengan mempergunakan fase kontras atau minyak imersi. Karena kemampuan mata melihat (membeda) 0,1 mm, maka daya membesarkan mikroskop biasa ialah 1000X. Besar sel rata-rata 0,1 sampai 100 um (1 um (mikrometer) =  mm), sedang bahan-bahan sel dalam ukuran um. Bahkan juga dalam nm (nanometer; 1nm =  mm). Karena itu sel dengan bagian-bagiannya yang kasar dapat dilihat dengan mikroskop biasa, namun bahan-bahan yang halus dan terinci tidak; harus dengan mikroskop elektron (Yatim, 1996:10).
b      Mikroskop fluoresensi
           Mikroskop ini memiliki sumber cahaya yang khusus dari yang bergelombang pendek. Yang dipakai ialah sinar ultraviolet (uv). Jika cahaya ini menyinari obyek yang berbinar (fluoresen), dipantulkannya cahaya dengan gelombang lebih panjang. Karena itu bila dilihat dibawah mikroskop organel atau bagian sel yang berbinar itu yang tampak, yang lain gelap. Yang berbinar secara alamiah ialah vitamin A, vitamin , dan porfirin. Banyak senyawa kimia yang diresap oleh kandungan sel sehingga membuatnya jadi berbinar. Perbinaran ini disebut perbinaran bikinan. Yang berbinar bikinan ini ialah seperti ADN dan ARN.
           Mikroskop ini dipakai untuk menemukan sel kanker, karena pada sel-sel seperti itu kadar ADN tinggi sekali sehingga warna berbinar inti sel sangat menyolok dibandingkan dengan sel normal.
           Mikroskop fluoresensi juga dipakai untuk menetapkan apakah suatu sel mengandung kromosom Y (penentu jenis kelamin jantan) atau tidak (Yatim, 1996:12).
c      Mikroskop fase-kontras
           Bagian-bagian sel yang tidak diwarnai secara mikroteknik dapat dibedakan dibawah mikroskop, kalau cahaya yang datang menuju obyek membuat pembiasan berbeda-beda. Organel biasanya memiliki indeks bias berbeda-beda, karena itu dapatlah dibedakan dibawah mikroskop. Pembiasan cahaya yang berbeda-beda ini dilaksanakan oleh suatu sistem optik khusus. Mikroskop yang memiliki sistem optik ini disebut mikroskop fase-kontras. Mikroskop jenis ini cocok untuk mengamati sel hidup atau sel pertanaman (Yatim, 1996:12).
d      Mikroskop polarisasi
           Ini adalah jenis MC yang mengandung prisma Nicol dari kalsit atau balsam, yang membuat cahaya yang datang ke obyek dipolarisasi. Film polaroid kini mulai banyak dipakai menggantikan prisma Nicol.
           Bagian obyek yang berhablur atau bersegi-segi, dapat dilihat di bawah mikroskop. Mikroskop ini dapat dipakai mengamati sel tulang, dinding sel tumbuhan, serat kolagen, otot, saraf, cilia dan flagella; juga untuk mengamati butiran tepung dan lemak yang dikandung sel (Yatim, 1996:12).
e      Mikroskop elektron
            Mikroskop elektron ditemukan oleh Knoll dan Ruska (1932), mempergunakan elektron sebagai pemantul bayang suatu obyek. Karena elektron tidak dapat dilihat mata maka bayangan obyek diterima layar fluoresen (berbinar) atau film potret, dari situlah baru mata dapat mengamatinya. Mikroskop elektron dikembangkan dalam bidang biologi baru pada tahun 50-an.
           Mikroskop elektron memperkuat daya membeda mikroskop biasa. Cahaya diganti dengan elektron. Bagian obyek yang tebal lebih banyak mengabsorpsi elektron daripada bagian yang tipis. Dengan perbedaan ini bayangan benda dapat dibuat pada layar atau film. Jika elektron berpusat lewat mikroskop dengan tegangan 50.000 volt, mereka berpanjang gelombang sekitar 0,05 A. Ini 100.000X lebih pendek dari panjang rata-rata gelombang cahaya. Secara teoritis mikroskop elektron dapat membedakan obyek ber-   0,005 A = 0,025 A. Ini lebih kecil dari  atom.  atom H 1,06 A.
           Tapi praktisnya alat modern sekarang dipakai hanya untuk membedakan 10A (0,001 um). Karena kemampuan mata membedakan 0,1 mm maka kekuatan membesarkan bayangan benda oleh mikroskop elektron ialah 100.000X (Yatim, 1996:12).
f       MET
           Mikroskop elektron ialah mikroskop yang mempergunakan elektron sebagai sumber “cahaya”. Sel atau jaringan dilihat berupa irisan atau replika. Mikroskop ini memiliki perbesaran puluhan sampai ratusan ribu kali (Yatim, 1996:12).
g      MES
           Mikroskop elektron skaning ialah mikroskop yang menggunakan elektron sebagai sumber “cahaya”, dan sel atau jaringan dilihat dari luar atau permukaan. Di dapat gambaran obyek secara stereometris.
           Mikroskop jenis ini lazim dipakai untuk melihat permukaan sel yang menyelaputi suatu rongga atau saluran, atau sel yang lepas-bebas. Seperti untuk melihat susunan cilia, flagela, dan spermatozoa. Daya perbesaran lebih rendah daripada MET, yakni beberapa ribu sampai puluhan ribu kali (Yatim, 1996:12).



BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah :
a.       Mikroskop, digunakan untuk melihat sel-sel tanaman atau benda-benda yang berukuran mikro.
b.      Kamera, digunakan untuk umendokumentasikan hasil pengamatan dari praktikum.
Alat
Alat yang digunakan adalah :
a.       Buku tulis, digunakan untuk mencatat bagian dan fungsi mikroskop electron.
b.      Pena, digunakan untuk menulis di buku tulis.
Waktu dan Tempat
              Praktikum ini dilaksanakan pada hari ………, Tanggal ………, Bulan ………, Tahun ………, Bertempat di Laboratorium Biologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.


Pelaksanaan Praktikum
           Pelaksanaan praktikum ini meliputi dua tahapan dalam pelaksanaan praktikum yaitu :
Pelaksanaan
1.      Mencari bidang penglihatan.
2.      Mencari bayangan sediaan.
3.      Mempersiapkan bahan untuk diamati.
4.      Memelihara mikroskop.
5.      Pengukuran mikroskopis/mikrometri.
Pengamatan
           Mengamati bagian-bagian mikroskop dan menggambarkannya secara visual serta memberikan keterangan pada tiap-tiap bagian pada gambar.

                                                                 


Pembahasan
Fungsi bagian-bagian mikroskop :
a. Kaki
                 Kaki pada mikroskop berfungsi menopang dan memperkokoh kedudukan mikroskop. Pada kaki melekat lengan dengan semacam engsel, pada mikroskop sederhana (model student).
b. Lengan
                 Dengan adanya engsel antara kaki dan lengan, maka lengan dapat ditegakkan atau direbahkan. Lengan dipergunakan juga untuk memegang mikroskop pada saat memindahkan mikroskop.
c. Cermin.
                 Cermin mempunyai dua sisi ( atas dan bawah ), sisi cermin datar dan sisi cermin cekung, berfungsi untuk memantulkan sinar dan sumber sinar. Cermin datar digunakan bila sumber sinar cukup terang, dan cermin cekung digunakan bila sumber sinar kurang. Cermin dapat lepas dan diganti dengan sumber sinar dari lampu. Pada mikroskop model baru, sudah tidak lagi dipasang cermin, sebab sudah ada sumber cahaya yang terpasang pada bagian bawah (kaki).
d. Kondensor
                  Kondensor tersusun dari lensa gabungan yang berfungsi mengumpulkan sinar.


e. Diafragma
                  Diafragma berfungsi mengatur banyaknya sinar yang masuk dengan mengatur bukaan iris. Letak diafragma melekat pada diafragma di bagian bawah. Pada mikroskop sederhana hanya ada diafragma tanpa kondensor.
f. Meja preparat
                  Meja preparat merupakan tempat meletakkan objek (preparat) yang akan dilihat. Objek diletakkan di meja dengan dijepit menggunakan penjepit. Dibagian tengah meja terdapat lengan untuk dilewati sinar. Pada jenis mikroskop tertentu, kedudukan meja tidak dapat dinaikan ataupun diturunkan. Pada beberapa mikroskop, terutama model terbaru, meja preparat dapat dinaik-turunkan.
g. Tabung.
                 Di bagian atas tabung melekat lensa okuler, dengan perbesaran tertentu (15X, 10X, dst). Dibagian bawah tabung terdapat alat yang disebut revolver. Pada revolver tersebut terdapat lensa objektif.
h. Lensa obyektif
                 Lensa objektif bekerja dalam pembentukan bayangan pertama. Lensa ini menentukan struktur dan bagian renik yang akan terlihat pada bayangan akhir. Ciri penting lensa obyektif ialah memperbesar bayangan obyek dengan perbesaran beraneka macam sesuai dengan model dan pabrik pembuatnya, misalnya 10X, 40X, dan 100X dan mempunyai nilai apertura (NA). Yang dimaksud dengan nilai apertura adalah ukuran daya pisah suatu lensa obyektif yang akan menentukan daya pisah spesimen, sehingga mampu menunjukkan struktur renik yang berdekatan sebagai dua benda yang terpisah.
i. Lensa Okuler
                  Lensa mikroskop yang terdapat di bagian ujung atas tabung, berdekatan dengan mata pengamat. Lensa ini berfungsi untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif. Perbesaran bayangan yang terbentuk berkisar antara 4 - 25 kali.
j. Pengatur Kasar dan Halus
                 Komponen ini letaknya pada bagian lengan dan berfungsi untuk mengatur kedudukan lensa objektif terhadap objek yang akan dilihat. Pada mikroskop dengan tabung lurus atau tegak, pengatur kasar dan halus berfungsi untuk menaik turunkan tabung sekaligus lensa objektif. Pada mikroskop dengan tabung miring, pengatur kasar dan halus digunakan untuk menaik turunkan meja prepara


KESIMPULAN
Kesimpulan
Pengenalan yang telah dilakukan menghasilkan kesimpulan sebagai berikut :
1.      Untuk melihat benda yang tidak bisa dilihat dengan mata, maka kita memerlukan alat bantu untuk melihat benda tersebut. Benda yang sering digunakan untuk melihat benda tersebut adalah mikroskop.
2.      Pembesaran suatu mikroskop merupakan suatu hasil kali antara pembesaran gabungan dari lensa obyektif dan lensa okuler.
3.      Mikroskop terdiri dari bagian-bagian yang dikelompokan atas bagian mekanis dan bagian optic.
4.      Dengan mempelajari pengenalan mikroskop, akan memudahkan praktikan dalam melakukakn penelitian yang melibatkan penggunaan mikroskop.



DAFTAR PUSTAKA
Lay. 1992. Mikrobiologi. Rajawali Pers. Jakarta.
Tim, Assisten. 2016. Penuntun praktikum biologi pertanian. Faperta unlam.
          Banjarbaru.

Parjatmo, Widjoyo. 1999. Petunjuk praktikum biologi. Jakarta : Universitas
          Terbuka.

Volk & Wheeler. 1993. Mikrobiologi dasar. Erlangga. Jakarta
Yatim, Wildan. 1996. Biologi Sel. Bandung : TARSITO




















Friday, September 23, 2016

Pemanfaatan energi panas secara modern di bidang pertanian

Contoh pemanfaatan energi panas secara modern dalam pengeringan produk pertanian (misal. gabah atau biji jagung, pengering bulu hewan) Dan penjelasan mekanismenya

     Pemanfaatan bahan pangan skala industri pertama kali dilakukan di Amerika Serikat, Nevada. Pemanfaatan langsung di bidang pertanian ini digunakan untuk mengeringkan bawang  merah dan bawang putih dengan total produksi lebih dari 3-4 ton bawang merah setiap jam.

     Mekanisme pemanfaatan energi panas dalam pengeringan bawang merah dan bawang putih.
  • Pemilihan Bawang.












     Bawang merah dan bawang putih yang akan diolah harus mempunyai bentuk yang seragam, bebas dari kerusakan penyakit maupun kerusakan mekanis. untuk mendapatkan umbi yang bermutu, Bawang dipanen pada tingkat ketuaan yang optimum.
  •  Pengupasan Bawang.








     Pengupasan awal setelah panen bertujuan untuk menghilangkan bagian kulit, akar dan bagian atas umbi. lalu dilakukan pencucian dengan air bersih untuk menghilangkan kotoran. Pencucian pada bawang biasanya disatukan dengan pengupasan bila mengggunakan "Fame peeling, Sebelumnya bawang dipanaskan pada suhu 90 derajat farenhiet (30 derajat celcius) sampai 100 derajat farenhiet (38 derajat celcius) kemudian dicuci dengan menggunakan "Brush spray washer" untuk menghilangkan akar.
  • Pengirisan Bawang.















   

     Setelah dicuci bawang akan di iris dengan ketebalan tertentu hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam pengringan bawang merah dan putih.
  • Perendaman Bawang.
     Setelah bawang merah di iris, direndam dalam larutan Na2S2O5 (Natrium Metabisulfit) dengan konsentrasi 500 ppm - 1.500 ppm selama 5-10 menit. Peranan senyawa sulfit dalam bahan pangan adalah sebagai antioksidan, mencegah kerusakan vitamin C. Juga dapat memucatkan warna dalam makanan, menghambat reaksi pencoklatanzimatis dan nonezimatis.
  • Pengeringan Bawang.








   









     Irisan bawang merah dan bawnag putih ditabur dalam layang, dikeringkan dalam oven dengan suhu 60 derajat celcius selama 24 jam. Faktor yang mempengaruhi kandungan air tepung bawang antara lain adalah suhu pengeringan, tebal irisan bawang dan lama pengeringan.
  • Penggilingan.
     Ini adalah tahap terakhir sebelum pengemasan, irisan bawang yang lebih kering digiling dengan menggunakan glinder untuk mendapatkan tepung bawang merah dan putih yang halus, dilakukan penyaringan dengan ukuran 60 mesh.














 

Tuesday, July 5, 2016

Sejarah Arsitektur 2

Assalamualaikum Wr.Wb
   

     Pada kesempatan ini Admin ingin membagikan info seputar sejarah dan perkembangan Arsitektur di Nusantara, Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Indonesia atau yang sering juga disebut sebagai Nusantara terdiri dari ribuan pulau dan ratusan suku budaya, Hal ini juga mempengaruhi Arsitektur pada bangunan rumah adat setiap pulau dan suku-suku, Namun juga tetap memperhatikan fungsionalitas dari struktur konstruksinya, Sebagaimana contohnya ; Rumah adat Bubungan Tinggi banjar khas kalsel dibuat dengan konstruksi rumah panggung dengan fungsi sesuai dengan linkungan banjar berupa pinggiran sungai dan rawa, Lain halnya dengan rumah adat Betawi khas DKI Jakarta dengan daerah plataran atau teras dibuat luas karena budaya betawi cenderung menerima tamu di luar daripada di dalam ruang tamu itu sendiri.
     Tanpa panjang lebar langsung saja kita memasuki topik utama sejarah arsitektur Nusantara, Semoga ini menjadi tambahan ilmu bagi pemirsa semua.

A. Arsitektur Nusantara.
    
     Arsitektur Indonesia dipengaruhi oleh keanekaragaman budaya, sejarah dan geografi di Indonesia. Para penyerang, penjajah, dan pedagang membawa perubahan kebudayaan yang sangat memperuhi gaya dan teknik konstruksi bangunan. Pengaruh asing yang paling kental pada zaman arsitektur klasik adalah India, meskipun pengaruh Cina dan Arab juga termasuk penting. Kemudian pengaruh Eropa pada seni arsitektur mulai masuk sejak abad ke-18 dan ke-19.
 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7ZRF44x5yHtQA3Ee19YObOGh6WbzZbKT1t_c3BYZ-e7yhBfRS980g_puRH84uAoF4okGZGerucykujM0DkVm2N_D69u1K55fWSGJKDG-KiG0ZWDOxp9zDPCmUoWofD321BizyOEJl7lai/s1600/z+08+Okt.+12+-+Foto+kota+Jakarta+awal+th.70+an+-+03.jpg

                                           gedung kantor pusat KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) 

 
Arsitektur Hindia-Belanda

 https://astrianin.files.wordpress.com/2012/06/p10100961.jpg
     Arsitek colonial atau arsitektur Hindia-Belanda ini kemudian menjadi orientasi bagi para pedagang pribumi, santri, Cina, dan priyayi. Pada tahap selanjutnya banyak rumah sakit dan sekolah dibanun dengan gaya serupa.
        Diantara karya-karya arsitektur tropis colonial ini, ternyata bias kita jimpai jenis arsitektur tropis yang Indonesia. Ambilah contoh kampus ITB (Institut Teknologi Bandung) yang dirancang Mc. Laine Pont. Yang sangat Indonesia dan berfungsi untuk social budaya modern adalah Teater Sobokarti di Semarang. Ini dirancang oleh Thomas Karsten dengan konsep yang dia tulis dalam sebuah artikel di JAwa pada tahun 1921. Berdenah teater romawi, tapi seluruh ekpresi arsitekturnya adalah arsitektur Jawa dan tropis. Hat\rus diakui, arsitek Belanda pencinta arsitektur tradisional Indonesia yang menyempal ini, ternyata sangat serius dalam penyiasati iklim tropis.
 
Arsitektur Tropis Indonesia
     Sejak kemerdekaan, yang laku adalah gaya arsitektur urban Eropa tahun 20-an. Gaya modern mulai disenangi, dijiplak tanpa imajinasi dan meremehkan iklim tropis. Arsitektur tropis colonial pun mulai memudar. Arsitek Silaban dan kawan-kawan tampil sebagai penyelamat dan berusaha secara konsisten sampai akhir hayatnya untuk menghadirkan arsitektur tropis Indonesia.dari segi kenyamanan termal, beliau cukup berhasil, tapi tidak cukup berhasil dalam mengekpresikan “Indonesia”nya, karena tetap saja merancang dengan idiom arsitektur modern, dengan kekhasan louvre- louvre pada facadenya.
http://ideproperti.com/wp-content/uploads/2015/05/ruma-tropis-dengan-kolam-ikan.jpg
     Era awal Orde BAru adalah cara erasemakin   memudarnya arsitektur tropis. Ia digilas oleh arsitektur modern berAC yang dirancang tanpa AC pun seakan-akan melupakan aspek tropis, sehingga pada suatu saat kita tersentak kaget dengan hadirnya sebuah desain, yang dikerjakan “raksasa” Paul Rudolph, yakni gedung Wisma Dharmala di Jakarta.
 
Sejarah Perkembangan Arsitektur Indonesia
     Perkembangan kebudayaan erat kaitannya dengan sejarah kebangsaan. Secara umum periodisasi sejarah budaya Indonesia dibagi atas tiga bagian besar yaitu Zaman Hindu-Budha, Zaman Islamisasi dan Zaman Modern, dengan proses oksidentalisasi. Sebenarnya terdapat satu zaman lagi sebelum zaman Hindu Buddha yaitu Zaman prasejarah akan tetapi pembahasan serta diskusi tentang zaman ini tidak banyak contoh yang tersisa dalam bidang arsitektur terutama pada masa prasejarah awal.1 Perkembangan arsitektur mulai dari masa Prasejarah Akhir yang ditandai dengan ditemukannya kubur batu di Pasemah, Gunung Kidul dan Bondowoso. Kemudian situs-situs megalitikum punden berundak di Leuwilang, Matesih, Pasirangin. Sebagaimana diketahui bahwa sejarah budaya yang melahirkan peninggalan budaya termasuk arsitektur sejalan dengan periodisasi tersebut diatas, maka dapat dikategorikan sebagai arsitektur percandian, arsitektur selama peradaban Islam (bisa termasuk arsitektur lokal atau tradisional, dan pra modern) dan arsitektur modern (termasuk arsitektur kolonial dan pasca kolonial).
Keberadaan arsitektur lokal yang identik dengan bangunan panggung berstruktur kayu telah ada sebelum atau bersamaan dengan pembangunan candi-candi. Hal ini ditunjukkan dari berbagai keterangan pada relief candi-candi dimana terdapat informasi tentang arsitektur lokal/domestik atau tradisional atau vernakular nusantara. Akan tetapi jikalau menilik usia dari bangunan vernakular yang ada di Indonesia, tidak ada yang lebih dari 150 tahun. Pembahasan pada buku ajar ini tentang perkembangan arsitektur Indonesia dapat diurutkan sebagai berikut :
Arsitektur vernakular
Arsitektur klasik atau candi
Arsitektur pada masa perabadan atau kebudayaan Islam
Arsitektur Kolonial
Arsitektur Modern (pasca kemerdekaan)
 
 
 










Sunday, May 1, 2016

Sejarah Arsitektur 1

Assalamualaikum Gengs,
     Gak kerasa sudah satu minggu berlalu dan bertemu kembali dengan Admin di Edukasi Arsitektur,
kali ini Admin ingin berbagi info seputar sejarah arsitektur, tau gak gengs dengan sejarah arsitektur.? banyak orang Arsitek itu sendiri yang kurang memahami sejarah arsitektur padahal gengs Arsitek itu perlu sekali mengenali sejarah Arsitektur Kenapa.? Karena seorang Arsitek yang sudah memahami sejarah Arsitektur itu juga akan berpengaruh dengan kualitas karya-nya gengs...Seorang yang sangat memahami Sejarah Arsitektur akan sangat mudah sekali membedakan bangunan dari masa kini,dulu, dan masa depan gengs, Oleh karena itu disini ingin bagi ilmu tentang Sejarah Arsitektur biar semua masyrakat non Arsitek pada tau dan bisa membedakan gimana sih, bangunan Klasik, Tradisional, modern, post modern dll.
     Untuk postingan kali ini gengs, Admin mau bagi info tentang Sejarah Arsitektur pada zaman di bawah-nya Kuno gengs yaitu pada zaman "PRASEJARAH".
      Nah gengs tanpa basa basi langsung saja kita ke TKP...!

Sejarah Arsitektur pada Zaman Prasejarah.

1.Prasejarah
     Hal paling luar biasa dari arsitektur prasejarah adalah seberapa cepatnya arsitektur yang tidak begitu memperhatikan kegunaan berkembang. Contohnya, arsitektur monumental yang pembangunannya memerlukan banyak energi di saat keberlangsungan hidup untuk esok hari bahkan belum pasti pada masa tersebut. Pada dasarnya, ketika arsitektur prasejarah berkembang, peninggalan paling tua dari nenek moyang kita pada zaman batu yang belum menetap adalah gua dengan banyak ruang, tempat perlindungan dari batu, dan susunan tiang-tiang seperti tenda dengan atap dari jerami atau alang-alang yang tidak permanen. Hal ini dikarenakan struktur yang permanen hanya akan menyulitkan manusia zaman batu yang masih nomaden.

https://history1978.files.wordpress.com/2011/08/purba7.jpg

2. Neolitikum
     Pada zaman neolitikum (zaman batu baru), nenek moyang kita sudah mulai menetap karena sudah mulai mengetahui cara bercocok tanam, berburu dan beternak, membuat pakaian, membuat tembikar, dan menyimpan serta mengawetkan produk secara sederhana. Karena itu, arsitektur dengan sifat yang lebih permanen mulai berkembang walaupun bahan yang digunakan masih bersifat semi-permanen seperti jerami, lumpur, tanah liat, kayu, dll. Salah satu contoh arsitektur pada zaman ini berada di Eropa, dekat bagian timur dari dataran tinggi Anatolian, Ҫatal Hüyük. Tempat ini dikenal sebagai kota terorganisir dengan ekonomi ektensif yang didasari dengan perdagangan, dan situs arsitektural yang lebih maju. Rumah-rumah dan fondasinya dibuat dari batu bata yang terbuat dari lumpur. Bentuknya menyerupai persegi, tingginya satu lantai, dan terbagi ke dalam tempat tinggal dan tersambung dengan gudang. Rumah ini dapat dimasuki melalui cerobong asap yang sekaligus digunakan sebagai pintu. Pergerakan dari rumah ke rumah lainnya juga hanya melalui atap ke atap. Tanpa pintu dan jendela dan terdiri dari struktur kotak-kotak yang terus menerus, rumah-rumah ini tampak seperti diding solid dari luar.
stonehenge-above_24772_600x450

Bangunan paling mengagumkan dari masa ini tidak dibuat untuk keperluan sehari-hari, tatapi merupakan monumen. Stonehenge di dataran Salisbury, tak jauh dari Avebury, lebih padu dan paling utuh dari pada monumen neolitikum lainnya serta sudah menarik perhatian dan banyak kontroversi. Stonehenge dibangun dengan bentuk konsentris. Ditengah-tengahnya terdapat altar. Di sekeliling altar, dalam bentuk susunan sepatu kuda,  terdapat trilithon yang masing-masingnya terdiri dari dua buah kolom (post) yang beratnya mencapai 40 ton satu kolomnya dan satu buah kolosal lintel. Setelah trilithon, ada susunan lingkaran dari batu lebih kecil yang diletakkan secara vertikal. Yang terakhir adalah lingkaran terluar yang mencapai diameter sebesar 106 kaki. Lingkaran terluar inilah yang paling monumental karena terdiri dari batu pasir monolit setinggi 13,5 kaki yang dulunya terdapat lintel bersambung di atasnya. Dari bentuk arsitekturalnya, diduga Stonehenge dulunya digunakan oleh penyembah matahari.

 3.Megalitikum
     Setelah Stonehenge, pada zaman megalitikum (batu besar), arsitektur mesir mulai bangkit. Salah satu yang terbesar adalah pembangunan kuil dewa matahari Amun-Ra. Disini terlihat penggunaan kolom yang terlihat mirip dengan tipe kolom doric pada kuil-kuil di masa keemasan arsitektur Yunani. Setelah itu, arsitektur terus berkembang hingga mencapai masa kejayaan arsitektur Yunani, di mana banyak penggunaan kolom dengan tipe yang lebih beragam.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixBBOqNGAy30ZIEuuHUWvpYIek_c2SErIcc8UZhWhVP3arwj2m1B1cY3MGfmxxt1j6ggLIQupiA-ZLyMvyVqZUdElmRGYbToWSwo7irx5Undpm-_aSZ5XOZE3Vmq8cUH_uR5Sb-8J4-Bro/s1600/piramid1.jpg

4. Sejarah arsitektur zaman Yunani kuno.
     Ini gengs zaman besar sesudah Arsitektur Zaman prasejarah sebenarnya gengs ini adalah materi yang ingin Admin sampaikan minggu depan tapi Admin mau berikan Siluet materi nya biar semua pada panasaran sedikit hehehe..ini dia gengs siluet materinya ;     
     Bangunan tertua yang dibangun di Yunani, tepatnya pada Zaman Batu Baru, adalah rumah atau gubuk kecil, dan dinding kayu di sekelilingnya untuk perlindungan. Kemudian, dibangun rumah yang lebih besar, dan dinding batu di sekeliling desa.
     Pada Zaman Perunggu Awal, di tengah-tengah suatu desa dibangun satu rumah yang paling besar, dan dinding batunya juga lebih besar.
     Pada Zaman Perunggu Akhir, dengan dipengaruhi Asia Barat, dan juga Minos di Kreta, ada istana dan makam batu besar, selain juga jalan berubin, jembatan, bendungan, dan lebih banyak dinding batu.
     Pada Zaman Kegelapan Yunani, istana-istana dibakar, sedangkan jalan dan jembatan dihancurkan. Namun pada akhir Zaman Kegelapan, dengan dimulainya Zaman Besi dan periode Arkaik di Yunani, bangunan jenis baru pun mulai dibuat, di antaranya kuil para dewa. Kuil jenis awal ini dibangun dengan gaya Doria. Ada pula perumahan, namun tidak ada istana. Selain itu, jalan, jembatan, dan dinding batu juga dibangun lagi.
    Pada periode Klasik, dibangun lebih banyak lagi kuil, dengan ukuran yang lebih besar dan rancangan yang baru. Orang Athena membangun Parthenon pada tahun 440-an SM. Pada masa ini kuil dibangun dengan gaya Ionia. Demokrasi mencegah orang Yunani membangun istana atau makam besar, karena menurut demokrasi, setiap orang dianggap setara, jadi memiliki istana bukanlah hal yang dianggap baik. Alih-alih, orang Yunani membangun tempat umum, misalnya gimnasium dan stoa, dimana orang-orang dapat berkumpul dan berdiskusi.
     Pada tahun 300-an SM, yang disebut periode Hellenistik, ada banyak jenis arsitektur baru. Kuil mulai kurang diperhatikan. Orang Yunani lebih banyak membangun teater di seluruh dunia Yunani. Selain itu, perencanaan kota juga menjadi lebih matang, jalanan dirancang terlebih dahulu untuk dibuat lurus, berbeda dengan dulu ketika jalanan dibuat tanpa perencanaan dan dibuat begitu saja sesuai dengan lokasi.
     Melalui penaklukan Aleksander Agung, arsitektur menjadi cara yang penting untuk menyebarkan kebudayaan Yunani dan menunjukkan kekuasaan Yunani di daerah taklukan.
    Hal yang sama terjadi ketika Romawi menakluakn Yunani, sekitar tahun 200-100 SM. Orang Romawi menggunakan arsitektur untuk menunjukkan kekuasaan Romawi di Yunani. Dengan cepat mereka membangun banyak bangunan bergaya Romawi di Yunani. Arsitektur Korinthos menjadi lebih terkenal. Sekitar tahun 400 SM, orang Yunani memeluk agama Kristen, dan mereka mulai membangun gereja dan biara. Mereka juga mengubah banyak kuil menjadi gereja.
     Pada Abad Pertengahan, sebagian Yunani direbut oleh bangsa Norman, yang membangun kastil-kastil. Sebagian lainnya masih dikuasai oleh Kekaisaran Bizantium, dan memiliki banyak bangunan dengan gaya Asia Barat. Pada akhirnya pada tahun 1453 SM, bangsa Turk menaklukan Kekaisaran Bizantium dan orang-orang mulai membangun masjid di Yunani.
 
                  Kuil Zeus Olympia, Athena
 
                       Stoa of Atalos, Athena
 
            Theater and Apollo Temple, Delph